Sejarah Bakso: Dari Bak-so Tionghoa hingga Ikon Kuliner Indonesia dan Dampaknya Terhadap Perekonomian
Main Article Content
Zakkiya Sholihubbana Indratno
Jelis Ayu Bunga Ardenta
Tiara Naisyela Putri
Penelitian ini membahas proses transformasi bakso dari kuliner bak-so yang berakar pada tradisi Tionghoa menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada dinamika akulturasi budaya yang melibatkan penyesuaian bahan, teknik pengolahan, serta pola penyajian bakso agar selaras dengan nilai religius, selera, dan kebiasaan masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber literatur yang relevan terkait diaspora Tionghoa, akulturasi kuliner, dan sosiologi makanan. Hasil kajian menunjukkan bahwa bakso tidak hanya mengalami perubahan sebagai produk makanan, tetapi juga mengalami pergeseran makna dan fungsi sosial. Dalam perkembangannya, bakso bertransformasi dari hidangan berbasis tradisi migran menjadi simbol integrasi budaya yang diterima lintas etnis dan kelas sosial. Selain itu, bakso juga berkembang sebagai praktik ekonomi mikro yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa akulturasi kuliner tidak sekadar menghasilkan adaptasi resep, tetapi turut membentuk identitas sosial serta praktik ekonomi berbasis keseharian dalam konteks budaya Indonesia.
Amalia, Y. R., & Hapsari, M. T. (2020). Peran pedagang kuliner informal dalam distribusi pendapatan masyarakat. Jurnal Ekonomi Rakyat.
Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology: An International Review, 46(1), 5–34. https://doi.org/10.1111/j.1464-0597.1997.tb01087.x
Bhowmik, S. K. (2005). Street vendors in Asia: A review. Economic and Political Weekly, 40(22), 2256–2264.
Cholid, N. (2019). Jejak akulturasi dalam tradisi lokal. Scientia: Jurnal Hasil Penelitian, 4(2).
Heriyanto. (2021). Transfer keterampilan kuliner dalam interaksi sosial Tionghoa-lokal. Cakrawala: Jurnal Humaniora Bina Sarana Informatika, 12(1), 17–24.
Kim, Y. Y. (2001). Becoming intercultural: An integrative theory of communication and cross-cultural adaptation. Thousand Oaks, CA: Sage.
Mufidah, F. (2020). Karakteristik bakso Malang dan Solo yang tersebar di kota Malang ditinjau dari kadar air, warna, tekstur, dan penyajian. Skripsi, Universitas Brawijaya.
Prabasmoro, T. (2020). Bobotoh dan persib: Mengonsumsi identitas melalui makanan. Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 12(2), 243. https://doi.org/10.30959/patanjala.v12i2.598
Rothenberg, A. D., Gaduh, A., Burger, N. E., Chazali, C., Tjandraningsih, I., Radikun, R., Sutera, C., & Weilant, S. (2016). Rethinking Indonesia's informal sector. World Development, 80, 96–113. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2015.11.005
Suroso, D. E. S. (2017). Pemanfaatan digital marketing bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kelurahan malaka sari, duren sawit. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Madani, 1(1), 7–20.
Suryadinata, L. (2015). Prominent Indonesian Chinese: Biographical sketches (4th ed.). Singapore: ISEAS – Yusof Ishak Institute.
Wang, C. (2017). Museum representations of Chinese diasporas: Migration histories and the cultural heritage of the homeland. London: Routledge.




